Menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi kami, ketika masuk kedalam lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran yang memiliki reputasi besar dibidang pelayaran dengan areal yang begitu luas dan megah serta penuh dengan aktifitas yang sangat padat disetiap sudut gedung. Baik dalam hal aktifitas hilir mudik kendaraan, siswa, pelaut dan karyawan serta para pengajar dilingkungan STIP. Begitu ketatnya disiplin dilingkungan STIP ini, di salah satu sudut wilayah yang berdekatan dengan GOR STIP, kami berbaris dalam urutan yang telah ditentukan. Ya ... hari itu kami bergabung menjadi satu dalam Program Company Social Responsibility (CSR_STIP) Angkatan Pertama tahun 2016 yang dibagi dalam 3 gelombang dalam pelaksanaan pendidikan untuk mendukung program TOL laut yang diprogramkan oleh pemerintah.
Satu persatu kami diabsen sesuai urutan absensi yang telah kami isi, dan satu persatu pembina dari STIP yang terdiri dari penanggung jawab pelaksana dan instruktur pelatih PBB kami memberikan instruksi, baik berupa sambutan pembuka, disiplin dilingkungkungan yang harus kami patuhi sampai pada isu yang menanyakan apakah kami masuk dalam program ini dikenakan biaya seperti kabar yang beredar. Dan setelah semua dinyatakan memenuhi segala syarat yang telah ditentukan mulailah kami menjalani tahap seleksi pertama berupa tes kesehatan.
Berbaris dalam antrian yang telah ditentukan, kami semua menjalani tahapan tahapan tes kesehatan yang disyaratkan dalam tes ini. Mulai dari tes THT, cek tensi darah, pengukuran tinggi dan berat badan dan tes mata. Karena syarat mutlak dalam tes ini kami harus lulus tes buta warna dan tensi darah, yang akan sangat menentukan lulus atau tidaknya kami untuk sampai pada tahapan berikutnya.
Menanti hasil tes kesehatan adalah satu hal yang membuat kami menunggu dengan rasa cemas dan was-was. Sebab jika hasil tes ini menyatakan kami tidak lulus, maka otomatis kami akan mengubur impian kami untuk menjadi seorang pelaut. Penulis yang saat itu ikut serta dalam rombongan sebagai salah satu peserta yang mengikuti tes kesehatan ini pun tidak luput dari keragu-raguan.
Bersyukur adalah hal pertama yang kami panjatkan setelah mengetahui kami lulus dalam tes kesehatan awal ini. Selanjutnya kami dikumpulkan dilapangan sepak bola STIP untuk mendapatkan arahan lebih lanjut dan langsung mendapatkan tahapan latihan Baris-berbaris sebagai langkah awal bagi kami untuk meningkatkan disiplin kami dan kekompakan kami.
Angkatan pertama gelombang pertama beserta instruktur pelatih fisik dan mental serta disiplin kami dan sekaligus melatih baris berbaris bagi kami setiap pagi sebelum kami mengikuti pelajaran Basic Safety Training dalam kelas yang telah ditentukan.
Program CSR-STIP ini ditujukan untuk mencetak pelaut-pelaut yang direkrut dari para pemuda dan pemudi dilingkungan sekitar Kampus STIP. Wilayah yang meliputi Maruda dan Cilincing menjadi target utama yang disasar untuk turut serta dalam kepelatihan ini. Namun ternyata banyak pula pemuda pemudi diluar wilayah sekitar kampus STIP yang turut serta dalam pelatihan ini, hal ini disebabkan karena sulitnya mencari pemuda-pemudi yang berminat untuk mengikuti program ini.
Satu persatu kami diabsen sesuai urutan absensi yang telah kami isi, dan satu persatu pembina dari STIP yang terdiri dari penanggung jawab pelaksana dan instruktur pelatih PBB kami memberikan instruksi, baik berupa sambutan pembuka, disiplin dilingkungkungan yang harus kami patuhi sampai pada isu yang menanyakan apakah kami masuk dalam program ini dikenakan biaya seperti kabar yang beredar. Dan setelah semua dinyatakan memenuhi segala syarat yang telah ditentukan mulailah kami menjalani tahap seleksi pertama berupa tes kesehatan.
Berbaris dalam antrian yang telah ditentukan, kami semua menjalani tahapan tahapan tes kesehatan yang disyaratkan dalam tes ini. Mulai dari tes THT, cek tensi darah, pengukuran tinggi dan berat badan dan tes mata. Karena syarat mutlak dalam tes ini kami harus lulus tes buta warna dan tensi darah, yang akan sangat menentukan lulus atau tidaknya kami untuk sampai pada tahapan berikutnya.
Menanti hasil tes kesehatan adalah satu hal yang membuat kami menunggu dengan rasa cemas dan was-was. Sebab jika hasil tes ini menyatakan kami tidak lulus, maka otomatis kami akan mengubur impian kami untuk menjadi seorang pelaut. Penulis yang saat itu ikut serta dalam rombongan sebagai salah satu peserta yang mengikuti tes kesehatan ini pun tidak luput dari keragu-raguan.
Bersyukur adalah hal pertama yang kami panjatkan setelah mengetahui kami lulus dalam tes kesehatan awal ini. Selanjutnya kami dikumpulkan dilapangan sepak bola STIP untuk mendapatkan arahan lebih lanjut dan langsung mendapatkan tahapan latihan Baris-berbaris sebagai langkah awal bagi kami untuk meningkatkan disiplin kami dan kekompakan kami.
Angkatan pertama gelombang pertama beserta instruktur pelatih fisik dan mental serta disiplin kami dan sekaligus melatih baris berbaris bagi kami setiap pagi sebelum kami mengikuti pelajaran Basic Safety Training dalam kelas yang telah ditentukan.
Program CSR-STIP ini ditujukan untuk mencetak pelaut-pelaut yang direkrut dari para pemuda dan pemudi dilingkungan sekitar Kampus STIP. Wilayah yang meliputi Maruda dan Cilincing menjadi target utama yang disasar untuk turut serta dalam kepelatihan ini. Namun ternyata banyak pula pemuda pemudi diluar wilayah sekitar kampus STIP yang turut serta dalam pelatihan ini, hal ini disebabkan karena sulitnya mencari pemuda-pemudi yang berminat untuk mengikuti program ini.
Angkatan pertama gelombang kedua adalah dimana penulis turut serta didalamnya, sangat minim peserta dari lingkungan setempat, para peserta bahkan ada yang berasal dari daerah Batam, Jawa Tengah, Jawa Barat, dimana hal ini kami rasakan justru menjadi warna tersendiri bagi kami yang semakin banyak menambah persahabatan dan persaudaraan dari berbagai wilayah.
Satu persatu program kami jalani, mulai dari BST, AFF dan SAT serta terakhir Rating yang terdiri dari dua jurusan, TEKNIK dan NAUTIK membuat kami bersemangat. Walaupun terkadang kami harus mendapatkan hukuman Push-Up ketika kami terlambat masuk karena ada sesuatu yang menghambat dijalan atau memang karena kelalaian kami, sudah menjadi sarapan kami yang harus kami jalani dengan ikhlas dan tersenyum ketika teman-teman mentertawakan kami.
Sesuai dengan tahapannya setiap kali kami selesai mengikuti materi teori maka kami wajib mengikuti materi praktek yang diwajibkan dalam diklat ini. Bercampur dengan kelas umum kami melaksanakan praktek dilapangan. Dari praktek pemadaman dengan pemadam air, cairan kimia sampai pada praktek penyelamatan diruang tertutup dan gelap. Juga kami wajib mengikuti praktek penyelamatan dilaut secara kelompok baik dengan alat penyelamat maupun hanya berbekal rompi penyelamat.
Walaupun tanpa dikenakan biaya satu rupiahpun, perjuangan kami untuk sampai pada tahap akhir tidaklah semudah yang dibayangkan. Tiga bulan berjalan kami berjuang untuk mendapatkan sertifikat yang kami impikan, BST, AFF, SAT, RATING, BUKU PELAUT. Namun tiga bulan berjalan pula kami harus menanti ketidakpastian yang berujung pada perjuangan tanpa kenal lelah yang berujung pada ketergantungan informasi sesama teman angkatan dan gelombang.

Sampai saat penulis menerbitkan tulisan dalam blog pribadi penulis ini, satu hal yang membuat kami terhambat dalam merealisasikan diri kami menjadi seorang pelaut adalah belum adanya kepastian kapan sertifikat RATING dapat kami terima. Sementara Angkatan Kedua CSR-STIP telah berjalan dan entah sudah gelombang keberapa.
Sebagai manusia yang tak luput dari salah, kami peserta diklat CSR-STIP Angkatan Pertama gelombang SATU, DUA dan TIGA mohon maaf kepada segenap pengurus, pembina, Instruktur dan Instansi terkait apabila dalam masa-masa diklat kami selalu berbuat satu dan lain hal yang tidak sesuai dengan tata kelola STIP, dan tidak lupa kami mengucapkan terimakasih atas bimbingannya selama kami di diklat CSR_STIP. Semoga harapan yang diberikan kepada kami terwujud sesuai dengan tujuan diadakannya diklat CSR_STIP ini. Aamiin ya Robbal Aalamiin.
Kepada Angkatan kedua program CSR-STIP semoga sukses dan doa kami untuk kalian, semoga sukses dan dapat menjalankan diklat sampai selesai dan sesuai harapan kita semua.
Tulisan ini dibuat untuk memotifasi sahabat, teman seperjuangan, bahwa tidak ada jalan yang mudah dan dapat diperoleh dengan jalan instan. Segalanya butuh perjuangan, terus berkomunikasi dan saling bersilaturahmi walau lewat dunia maya. Dengan demikian apa yang berat menjadi ringan dirasa, hilangkan segala silang pendapat, mari berbagi walaupun setitik informasi ... demi masa deapan yang lebih baik.
Sampai berjumpa dilautan teduh nan luas serta ditemani matahari sore nan indah didepan mata ... secarik cerita dari hari-hari melawan lupa.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar